Sabtu, 25 Januari 2014

Yes, Just be Friend

            Dan lagi…lagi…dan lagi…
Kerjaan gue cuma nunggu hp gue berbunyi dan mengharapkan ada pesan atau telepon dari pacar gue yang super sibuk. Inilah rutinitas sehari-hari gue, tidak pernah jauh dari hp kesayangan gue hanya untuk menunggu kabar dari seorang pacar.
Perkenalkan nama pacar gue Andrie. Gue berteman dengannya udah lumayan cukup lama tapi gue jadian dengan dia baru 8 bulan. Menurut feeling gue, cowo gue itu tipical cowo playboy. Udah tahu kelakuannya seperti itu, tapi entah kenapa gue sayang banget sama dia dan gue gak pernah niat pengen putus dari dia. Gue selalu berangan-angan bisa menikah dengannya dan hidup bersama sampai akhir hayat. Gue berpendapat dialah cowo yang paling sukses bikin gue klepek-klepek dari sikap and perhatiannya. Dan dialah satu-satunya cowo yang bisa sukses bikin gue ngerasa nyaman saat bersamanya.


            Hari ini adalah hari yang super bikin gue ngamuk-ngamuk ga jelas, dari pulang ngampus sampe malem gue setia natapin hp gue yang gak kunjung bunyi nunggu pesan and telepon dari cowo gue. Semua ajakan teman-teman gue buat hangout gue tolak mentah-mentah demi menunggu kabar dari seorang pacar yang ntah dimana sekarang. Sampai gue ketiduran and bangun lagi hp yang tak pernah jauh dari gue tak kunjung berdering juga. Sungguh kesal rasanya menunggu seperti ini, akhirnya gue putuskan untuk pergi keluar menghirup udara malam serta mencoba menghilangkan rasa galau gue.
            Krriiiinnnggg….krrriiiingggg…kriinggg
            “Telepon dari siapa itu ? ahh paling dari mama.” Pikir gue sejenak sambil meraih hp yang gue letakkan diatas meja belajar”
Setelah melihat hp, senang sekaligus kesal yang gue rasa ternyata pacar gue yang menelpon gue. Sesegera mungkin gue langsung mengangkat telepon itu
            “Hallo.” Dengan nada datar and sok cuek gue menjawab telpon
            “Hallo, kok jawabnya datar ? Marah ya sama aku ? jawabnya
            “Nggak”. Jawab gue dengan ketus
            “Yakin gak marah ?” jawabnya
            “Tau ahh, kenapa ?” jawabku semakin ketus
            “Ok..ok.. aku tahu kamu marah sama aku. Maaf aku baru bisa menghubungi kamu. Seharian ini aku sibuk sekali. Sampai nyentuh hp pun aku gak sempat.” Ujarnya menjelaskan alasannya.
            “Ooohhh gitu, iya.” Jawabku kembali datar saking kesalnya
            “Aku mau ngomong sesuatu nih sama kamu, kita bisa ketemuan gak di taman sekarang?” ajaknya kepadaku
            “Mau ngomong apa ? Emang gak bisa lewat telepon aja ?” jawabku
         “Nggak, aku mau bicara hal penting. Kamu bisa kan ke taman sekarang juga ? Aku tunggu di tempat biasa.” Jawabnya
            “Iya , aku kesana sekarang.” Jawabku
            “Ok, aku tunggu. Daaa….” Jawabnya sambil menutup telepon

Setelah selesai berbicara di telepon gue segera mengenakan sweater kesayangan gue, karenan udara malam ini sangat dingin. Dan kemudian gue langsung pergi ke taman untuk bertemu dengan cowo gue.
Sesampainya di taman, gue langsung melihat cowo gue yang seperti biasa mengenakan pakaian kaos oblong ditambah celana pendek dan sandal jepit. Ya begitulah style cowo gue yang orangnya super cuek. Kemudian segera gue berjalan kearahnya. Dengan wajah yang datar dan cukup marah gue menghampirinya
            “Ada apa malam-malam begini ngajakin ketemuan disini ?” Tanya gue padanya
            “Aku mau ngomong hal penting sama kamu. Aku harap kamu nggak marah dan kamu bisa menerima semua ini.” Ucapnya
            “Mau ngomong soal apa ? Langsung aja, udah malam aku takut kemalaman nanti pulang.” Jawab gue datar
            “Aku mau kita putus !” ucapnya tegas
Seketika gue terkejut atas ucapannya itu dan mencoba tidak menangis mendengar apa yang dia katakanya.
            “Alasannya ?” jawab gue singkat
            “Aku mau focus sama kerjaanku, aku mau hubungan kita berubah menjadi berteman saja, sehingga aku dan kamu tidak terikat. Dan aku harus menjalankan bisnis orang tuaku karena aku memiliki tanggung jawab yang cukup besar sebagai anak pertama.” Jawabnya mencoba menjelaskan pada gue.
            “Oke, baiklah. Aku harus pulang. Terima kasih atas segala perhatian dan semua hal indah yang pernah kamu berikan padaku. Dan terima kasih juga kamu pernah mau menjadi orang special dalam hidupku ! Sudah malam, sebaiknya aku segera pulang. Aku pulang dulu yah.” Jawab gue yang berusaha menahan air mata yang rasanya sudah tak sanggup lagi untuk ditahan.
            “Aku antar pulang yah.” Ajaknya
            “Nggak usah, aku bisa pulang sendiri kok.” Jawab gue sambil membalikkan tubuh gue yang sengaja berusaha menyembunyikan air mata yang mulai menetes.
            “Sekali lagi aku minta maaf padamu, aku sangat menyayangimu. Aku harap hubungan pertemanan kita bisa seperti dulu.” Ujarnya
     “Iya, aku nggak apa-apa. Aku pulang dulu. Daaa ” Jawab gue sambil pergi meninggalkannya seolah-olah tegar tanpa harus menampakkan wajah yang sedih.

            Sungguh rasa yang sangat amat menyakitkan yang gue rasa malam ini. Rasanya hati gue ditusuk pedang panas yang sangat tajam. Semua penantian, harapan, angan-angan gue hancur seketika. Ntah apa yang bisa gue ucapin untuk mengungkapkan semua isi hati gue. Selama di perjalanan air mata gue tak hentinya mengalir. Malam ini gue nggak langsung balik ke kost an, gue pergi ke pantai berusaha menenangkan diri gue. Sakit, sedih, kesal, semua jadi satu. Di pantai gue berteriak sekeras mungkin sampai gue puas. Tak perduli ada orang yang memperhatikan gue atau mengira gue orang gila.
            “ANDRIEEEE KAMUU JAAAHHHHAAATTTTTT, KAMU COWO TERJAAAHHHHAAAATTTTT” teriak gue.
            Dan akhirnya gue puas teriak-teriak sampe perasaan gue sedikit lega mengeluarkan uneg-uneg gue. Setelah merasa sedikit tenang, gue langsung pulang ke kost gue dan air mata gue terus mengalir sampai akhirnya gue ketiduran. 

            Hari demi hari telah gue lalui. Tak terasa udah sebulan telah berlalu. Dan pada akhirnya gue denger si Andrie uda punya cewe baru dan dia udah jadiaan dengan cewe barunya itu 2 bulan. Mendengar semua berita itu gue mulai mengerti alasan selama ini dia cuek sama gue, menelantarkan gue, dan mencampakkan gue.
Gue berfikir, sungguh hebat dia bisa jadian dengan cewe lain sebelum putus sama gue. Tapi, gue nggak mau membencinya, gue justru berterima kasih pada Allah karena telah menjauhkan gue dari pria yang berniat mempermainkan gue.
            Hari pun berganti hari, bulan berganti bulan. Gue tetap menjalani hari-hari gue sendiri tanpa ingin mencari seorang pacar. Dan seperti biasa setiap minggu gue pergi ke pantai favorite gue. Disana nggak gue sangka dan duga, gue ketemu sama si Andrie. Rasanya gue pengen menghindar, tapi sebelum menghindar Andrie udah duluan manggil gue.
            “Hey Nadia..” Teriaknya memanggil gue
            “Ehh kamu, hey..” Jawab gue sambil tersenyum
           "Apa kabar ? Masih sering kesini ya tiap minggu ? Sama siapa kesini ?” Tanya nya pada gue.
            “Aku baik, iya nihh dari dulu sampai sekarang tiap minggu pasti kesini. Ini kan pantai favoriteku.hehehe. Aku sendirian kesini. Kamu ?” Tanya gue padanya.
            “Aku sendirian juga kesini. Entah kenapa aku merindukan pantai ini. Aku merindukan kenangan-kenanga kita saat bersama dulu. Aku juga merindukanmu Nadia.” Jawabnya
            “hahahahah, apa ? Ga usah bercanda deh. Nanti ada yang marah lho. Udah-udah kita bahas yang lain saja.” Jawabku mengalihkan pembicaraan.
            “Serius nad, aku kangen sama kamu. Aku kangen semua tentang kita. Aku kangen semua hal-hal yang pernah kita alami bersama. Aku ga punya pacar. Jadi ga ada yang marah kok.” Jawabnya.
            “Kamu putus sama pacar kamu ?” Tanya gue padanya.
          “Iya, aku udah lama putus. Dia cewe yang egois, selalu mementingkan dirinya sendiri, setiap hari dia selalu cuekin aku, dan dia tega selingkuhin aku sama orang lain. Jadi aku lebih memilih berpisah dengannya dari pada aku merasa sakit hati terus.” Jawabnya.
            “Ohh gitu, maaf aku ga maksud bikin kamu sedih ya. Sabar aja, pasti bakal ada cewe yang lebih baik lagi disiapin Allah buat kamu.” Jawab gue menyemangati dia.
            “Aku pengen cewe itu kamu Nad. Aku pengen kita kayak dulu lagi. Kamu mau memberiku kesempatan sekali lagi ? Aku janji aku nggak bakal nyakitin, ngecewain, dan ngenyianyiain kamu lagi. Kamu mau jadi pacar aku lagi.” Tanyanya
            “Maaf Andrie, jujur aku masih sayang sama kamu. Sampai saat ini aku nggak pernah bisa mencari penggantimu.” Jawabku
            “Lalu ? Ayo kita memulai segalanya dari awal lagi. Kamu dan aku kembali berpacaran seperti dulu. Aku benar-benar menyesal telah meninggalkanmu. Aku janji aku benar-banar akan menjagamu dan menyayangimu lebih dari apapun.” Jawabnya
            “Tapi tidak semudah itu. Aku mengenalmu sudah lama. Aku tahu bagaimana karaktermu. Cinta itu bukan permainan dimana saat kamu bosan kamu bisa mencari permainan baru dan saat kamu merindukan permainan lamamu kamu kembali lagi.” Jelas gue padanya.
            “Iya, aku mengerti dan aku paham Nad. Aku sadar aku salah selama ini. Tapi aku harap kita bisa berkomunikasi seperti dulu kan. Walaupun hanya sekedar sebagai teman, aku tidak apa-apa.” Ujarnya.
            “Tentu, kenapa tidak.” Jawab gue sambil menatapnya sambil tersenyum.

            Kamipun berkomunikasi kembali seperti dulu. Dia selalu menghubungi gue setiap hari. Dan hari-hari gue kini dihiasi olehnya, walaupun status hubungan gue sama dia hanya sebatas teman, tapi gue merasa sangat senang.