Dan lagi…lagi…dan
lagi…
Kerjaan gue cuma nunggu
hp gue berbunyi dan mengharapkan ada pesan atau telepon dari pacar gue yang
super sibuk. Inilah rutinitas sehari-hari gue, tidak pernah jauh dari hp
kesayangan gue hanya untuk menunggu kabar dari seorang pacar.
Perkenalkan nama pacar gue Andrie. Gue berteman
dengannya udah lumayan cukup lama tapi gue jadian dengan dia baru 8 bulan. Menurut
feeling gue, cowo gue itu tipical cowo playboy. Udah
tahu kelakuannya seperti itu, tapi entah kenapa gue sayang banget sama dia dan
gue gak pernah niat pengen putus dari dia. Gue selalu berangan-angan bisa menikah
dengannya dan hidup bersama sampai akhir hayat. Gue berpendapat dialah cowo
yang paling sukses bikin gue klepek-klepek dari sikap and perhatiannya. Dan dialah
satu-satunya cowo yang bisa sukses bikin gue ngerasa nyaman saat bersamanya.
Hari ini
adalah hari yang super bikin gue ngamuk-ngamuk ga jelas, dari pulang ngampus
sampe malem gue setia natapin hp gue yang gak kunjung bunyi nunggu pesan and
telepon dari cowo gue. Semua ajakan teman-teman gue buat hangout gue tolak
mentah-mentah demi menunggu kabar dari seorang pacar yang ntah dimana sekarang. Sampai
gue ketiduran and bangun lagi hp yang tak pernah jauh dari gue tak kunjung berdering
juga. Sungguh kesal rasanya menunggu seperti ini, akhirnya gue putuskan untuk pergi keluar menghirup udara malam serta
mencoba menghilangkan rasa galau gue.
Krriiiinnnggg….krrriiiingggg…kriinggg
“Telepon
dari siapa itu ? ahh paling dari mama.” Pikir gue sejenak sambil meraih hp yang
gue letakkan diatas meja belajar”
Setelah melihat hp, senang sekaligus kesal yang gue rasa ternyata pacar gue yang menelpon gue. Sesegera mungkin gue langsung
mengangkat telepon itu
“Hallo.”
Dengan nada datar and sok cuek gue menjawab telpon
“Hallo,
kok jawabnya datar ? Marah ya sama aku ? jawabnya
“Nggak”.
Jawab gue dengan ketus
“Yakin
gak marah ?” jawabnya
“Tau
ahh, kenapa ?” jawabku semakin ketus
“Ok..ok..
aku tahu kamu marah sama aku. Maaf aku baru bisa menghubungi kamu. Seharian ini
aku sibuk sekali. Sampai nyentuh hp pun aku gak sempat.” Ujarnya menjelaskan
alasannya.
“Ooohhh
gitu, iya.” Jawabku kembali datar saking kesalnya
“Aku
mau ngomong sesuatu nih sama kamu, kita bisa ketemuan gak di taman sekarang?”
ajaknya kepadaku
“Mau
ngomong apa ? Emang gak bisa lewat telepon aja ?” jawabku
“Nggak,
aku mau bicara hal penting. Kamu bisa kan ke taman sekarang juga ? Aku tunggu
di tempat biasa.” Jawabnya
“Iya ,
aku kesana sekarang.” Jawabku
“Ok,
aku tunggu. Daaa….” Jawabnya sambil menutup telepon
Setelah selesai
berbicara di telepon gue segera mengenakan sweater kesayangan gue, karenan udara
malam ini sangat dingin. Dan kemudian gue langsung pergi ke taman untuk bertemu
dengan cowo gue.
Sesampainya di taman, gue langsung melihat cowo gue
yang seperti biasa mengenakan pakaian kaos oblong ditambah celana pendek dan sandal
jepit. Ya begitulah style cowo gue yang orangnya super cuek. Kemudian segera
gue berjalan kearahnya. Dengan wajah yang datar dan cukup marah gue
menghampirinya
“Ada
apa malam-malam begini ngajakin ketemuan disini ?” Tanya gue padanya
“Aku
mau ngomong hal penting sama kamu. Aku harap kamu nggak marah dan kamu bisa
menerima semua ini.” Ucapnya
“Mau
ngomong soal apa ? Langsung aja, udah malam aku takut kemalaman nanti pulang.” Jawab gue datar
“Aku
mau kita putus !” ucapnya tegas
Seketika gue terkejut atas ucapannya itu dan mencoba
tidak menangis mendengar apa yang dia katakanya.
“Alasannya
?” jawab gue singkat
“Aku
mau focus sama kerjaanku, aku mau hubungan kita berubah menjadi berteman saja,
sehingga aku dan kamu tidak terikat. Dan aku harus menjalankan bisnis orang
tuaku karena aku memiliki tanggung jawab yang cukup besar sebagai anak pertama.”
Jawabnya mencoba menjelaskan pada gue.
“Oke,
baiklah. Aku harus pulang. Terima kasih atas segala perhatian dan semua hal
indah yang pernah kamu berikan padaku. Dan terima kasih juga kamu pernah mau
menjadi orang special dalam hidupku ! Sudah malam, sebaiknya aku segera pulang.
Aku pulang dulu yah.” Jawab gue yang berusaha menahan air mata yang rasanya
sudah tak sanggup lagi untuk ditahan.
“Aku
antar pulang yah.” Ajaknya
“Nggak
usah, aku bisa pulang sendiri kok.” Jawab gue sambil membalikkan tubuh gue yang
sengaja berusaha menyembunyikan air mata yang mulai menetes.
“Sekali
lagi aku minta maaf padamu, aku sangat menyayangimu. Aku harap hubungan
pertemanan kita bisa seperti dulu.” Ujarnya
“Iya,
aku nggak apa-apa. Aku pulang dulu. Daaa ” Jawab gue sambil pergi meninggalkannya seolah-olah tegar
tanpa harus menampakkan wajah yang sedih.
Sungguh
rasa yang sangat amat menyakitkan yang gue rasa malam ini. Rasanya hati gue
ditusuk pedang panas yang sangat tajam. Semua penantian, harapan, angan-angan
gue hancur seketika. Ntah apa yang bisa gue ucapin untuk mengungkapkan semua
isi hati gue. Selama di perjalanan air mata gue tak hentinya mengalir. Malam ini
gue nggak langsung balik ke kost an, gue pergi ke pantai berusaha menenangkan diri gue.
Sakit, sedih, kesal, semua jadi satu. Di pantai gue berteriak sekeras
mungkin sampai gue puas. Tak perduli ada orang yang memperhatikan gue atau
mengira gue orang gila.
“ANDRIEEEE
KAMUU JAAAHHHHAAATTTTTT, KAMU COWO TERJAAAHHHHAAAATTTTT” teriak gue.
Dan
akhirnya gue puas teriak-teriak sampe perasaan gue sedikit lega mengeluarkan
uneg-uneg gue. Setelah merasa sedikit tenang, gue langsung pulang ke kost gue dan air mata
gue terus mengalir sampai akhirnya gue ketiduran.
Hari demi hari telah gue lalui. Tak terasa udah sebulan
telah berlalu. Dan pada
akhirnya gue denger si Andrie uda punya cewe baru dan dia udah jadiaan dengan
cewe barunya itu 2 bulan. Mendengar semua berita itu gue mulai mengerti alasan selama ini dia cuek sama gue, menelantarkan gue, dan mencampakkan gue.
Gue berfikir, sungguh hebat dia bisa jadian dengan
cewe lain sebelum putus sama gue. Tapi, gue nggak mau membencinya, gue justru berterima
kasih pada Allah karena telah menjauhkan gue dari pria yang berniat mempermainkan gue.
Hari
pun berganti hari, bulan berganti bulan. Gue tetap menjalani hari-hari gue
sendiri tanpa ingin mencari seorang pacar. Dan seperti biasa setiap minggu gue
pergi ke pantai favorite gue. Disana nggak gue sangka dan duga, gue ketemu
sama si Andrie. Rasanya gue pengen menghindar, tapi sebelum menghindar Andrie
udah duluan manggil gue.
“Hey
Nadia..” Teriaknya memanggil gue
“Ehh
kamu, hey..” Jawab gue sambil tersenyum
"Apa
kabar ? Masih sering kesini ya tiap minggu ? Sama siapa kesini ?” Tanya nya
pada gue.
“Aku
baik, iya nihh dari dulu sampai sekarang tiap minggu pasti kesini. Ini kan
pantai favoriteku.hehehe. Aku sendirian kesini. Kamu ?” Tanya gue padanya.
“Aku
sendirian juga kesini. Entah kenapa aku merindukan pantai ini. Aku merindukan
kenangan-kenanga kita saat bersama dulu. Aku juga merindukanmu Nadia.” Jawabnya
“hahahahah,
apa ? Ga usah bercanda deh. Nanti ada yang marah lho. Udah-udah kita bahas
yang lain saja.” Jawabku mengalihkan pembicaraan.
“Serius
nad, aku kangen sama kamu. Aku kangen semua tentang kita. Aku kangen semua
hal-hal yang pernah kita alami bersama. Aku ga punya pacar. Jadi ga ada yang
marah kok.” Jawabnya.
“Kamu
putus sama pacar kamu ?” Tanya gue padanya.
“Iya,
aku udah lama putus. Dia cewe yang egois, selalu mementingkan dirinya sendiri,
setiap hari dia selalu cuekin aku, dan dia tega selingkuhin aku sama orang
lain. Jadi aku lebih memilih berpisah dengannya dari pada aku merasa sakit hati
terus.” Jawabnya.
“Ohh
gitu, maaf aku ga maksud bikin kamu sedih ya. Sabar aja, pasti bakal ada cewe
yang lebih baik lagi disiapin Allah buat kamu.” Jawab gue menyemangati dia.
“Aku
pengen cewe itu kamu Nad. Aku pengen kita kayak dulu lagi. Kamu mau memberiku
kesempatan sekali lagi ? Aku janji aku nggak bakal nyakitin, ngecewain, dan
ngenyianyiain kamu lagi. Kamu mau jadi pacar aku lagi.” Tanyanya
“Maaf
Andrie, jujur aku masih sayang sama kamu. Sampai saat ini aku nggak pernah bisa
mencari penggantimu.” Jawabku
“Lalu
? Ayo kita memulai segalanya dari awal lagi. Kamu dan aku kembali berpacaran seperti
dulu. Aku benar-benar menyesal telah meninggalkanmu. Aku janji aku benar-banar
akan menjagamu dan menyayangimu lebih dari apapun.” Jawabnya
“Tapi
tidak semudah itu. Aku mengenalmu sudah lama. Aku tahu bagaimana karaktermu. Cinta
itu bukan permainan dimana saat kamu bosan kamu bisa mencari permainan baru dan
saat kamu merindukan permainan lamamu kamu kembali lagi.” Jelas gue padanya.
“Iya,
aku mengerti dan aku paham Nad. Aku sadar aku salah selama ini. Tapi aku harap kita bisa berkomunikasi seperti dulu kan. Walaupun
hanya sekedar sebagai teman, aku tidak apa-apa.” Ujarnya.
“Tentu,
kenapa tidak.” Jawab gue sambil menatapnya sambil tersenyum.
Kamipun
berkomunikasi kembali seperti dulu. Dia selalu menghubungi gue setiap hari. Dan
hari-hari gue kini dihiasi olehnya, walaupun status hubungan gue sama dia hanya
sebatas teman, tapi gue merasa sangat senang.